Dangling Rainbow Hearts

Sabtu, 30 Maret 2013

ANTROPOLOGI

ANTROPOLOGI


1.      Pengertian Antropologi
Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial, jadi antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.
   Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

2.      Metode ilmiah dari antropologi

  1. Metode ilmiah dan pengumpulan fakta      
            Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala cara yang digunakan dalam ilmu tersebut, untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Tanpa metode ilmiah , suatu ilmu pengetahuan bukanlah suatu ilmu melainkan suatu himpunan pengetahuan saja, tentang berbagai gejala alam atau masyarakat, tanpa ada kesadaran tentang hubungan antara gejala-gejala yang terjadi. Kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai oleh para sarjana ilmu yang bersangkutan melalui tiga tingkat, yaitu.1) pengumplan data, 2)penentuan ciri-ciri umumdan sistem, dan 3) verifikasi.
          Untuk antropologi-budaya, tingkat ini adalah pengumpulan fakta mengenai kejadian dan gejala masyarakat dan kebudayaan untuk pengolahan secara ilmiah. Dalam kenyataan, aktivitas pengumpulan fakta di sini terdiri dari berbagai metode mengobservasi, mencatat, mengolah, dan mendeskripsikan fakta-fakta yang terjadi dalam masyarakat yang hidup.
          Pada umumnya, metode-metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan dapat digolongkan ke dalam tiga golongan dan masing-masing mempunyai perbedaan pokok, yaitu (i) penelitian dalam perpustakaan.Dalam penelitian di lapangan (field work), peneliti harus menunggu terjadinya gejala yang menjadi akan menjadi objek observasinya itu; sebaliknya dalam penelitian di laboratorium gejala yang akan menjadi objek observasi dapat dibuat dan sengaja diadakan oleh peneliti. Sedangkan dalam penelitian di perpustakaan, gejala yang akan menjadi objek penelitian harus dicari dari beratus-ratus ribu buku yang beraneka ragam. Selain itu, dalam penelitian dilapangan, peneliti masuk ke dalam objeknya, artinya, ia sendiri harus memperhatikan hubungan antara objek dan dirinya sendiri; sedangkan dalam laboratorium dan perpustakaan peneliti berada tetap di luar objeknya, artinya dirinya sendiri tidak ada hubungan dengan objek yang ditelitinya itu.
         Untuk ilmu antropologi-budaya penelitian lapangan merupakan cara yang terpenting untuk mengumpulkan fakta-faktanya; selain itu penelitian diperpustakaan juga penting. Sedangkan metode- metode penelitian di laboratorium (yang merupakan metode pengumpulan fakta yang utama dalam ilmu-ilmu alam dan teknologi), hampir tidak berarti untuk ilmu antropologi.
         Dalam penelitian di lapangan, peneliti datang sendiri dan menceburkan diri dalam suatu masyarakat untuk mendapat keterangan tentang gejala kehidupan manusia dalam msyarakat itu. Di sana, selain dari observasi sendiri sebagian besar bahan keterangannya diperoleh dari warga atau masyarakat, yang merupakan orang-orang pemberi keterangan, atau informasi. Para peneliti antropologi budaya biasanya sangat tertarik pada tindakan dan kelakuan manusia dalam hubungan kelompok-kelompok seperti itu biasanya tidak melebihi 3.000 individu, yang dipilih untuk diteliti secara khusus dan mendalam mengenai berbagai aspek.Hal itu menyebabkan bahwa seorang peneliti antropologi-budaya terutama menggunakan metode –metode pengumpulan fakta yang bersifat kualitatif. Metode-metode itu terutama berupa metode wawancara dan catatan hasil (field notes)        
Field notes yang telah dikumpulkan tadi harus diubah menjadi tulisan oleh sarjana-sarjana lain dapat dipergunakan dan diolah menjadi teori-teori tentang asas-asas kebudayaan, untuk menambah pengetahuan bagi peneliti yang akan terjun langsung ke daerah tersebut. Mengubah field notes menjadi karangan yang dapat dibaca orang lain, memerlukan suatu rangkaian metode tersendiri. Dalam hal ini, bahan nyata yang tercatat dalam bentuk field notes itu harus diolah menjadi suatu karangan deskripsi. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat abstraksi dari bahan yang ada dalam bentuk pernyataan-pernyataan.
         Seluruh metode yang digunakan, mulai dari metode pengumpulan bahan konkret tentang suatu masyarakat yang hidup, sampai pada metode untuk mengolah bahan menjadi karangan yang dapat dibaca orang lain, merupakan bidang deskriptifdari ilmu antropologi yang disebut etnografi, Istilah etnografi yang berarti deskripsi ethnos atau suku bangsa, selain mengandungarti seluruh metode antropologi deskriptif, juga berarti tentang bahan kehidupan masyarakat dan kebudayaan di suatu daerah. Sedangkan buku yang mengandung pelukisan tentang kehidupan suatu masyarakat dan kebudayaan di suatu daerah.

  2. Penentuan Ciri-ciri Umum dan Sistem

         Hal ini adalah tingkat dalam cara berpikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Proses berpikir secara ilmiah pada tahap ini, menimbulkan metode-metode yang hendak mencari ciri-ciri yang sama dan umum, di antara beragam fakta dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia. Proses berpikir di sini berjalan secara induktif; dari pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta khusus dan konkret, kearah konsep-konsep mengenai ciri-ciri umum yang lebih abstrak.
         Ilmu antropologi yang bekerja dengan bahan berupa fakta-fakta berasal dari sebanyak mungkin macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, untuk mencari ciri-ciri umum di antara beragam fakta tersebut digunakan berbagai metode perbandingan (metode komparatif). Metodekomparatif biasanya dimulai dengan metode klasifikasi. Dalam menghadapi suatu objek peneliti harus menguasai hal tersebut dengan akalnya. Artinya ia harus memperkecil jumlah keragaman tadi sehingga tersisa beberapa perbedaan pokok saja.
         Dalam ilmu-ilmu alam, penentuan ciri-ciri umum dan sistem dalam fakta-fakta alam dilakukan dengan cara mencari perumusan –perumusan yang menyatakan berbagai macam hubungan mantap antara fakta-fakta tadi. Hubungan itu biasanya kovariabel (artinya, lain yang berkaitan dengan itu berubah juga), atau hubungan itu mungkin hubungan sebab-akibat (artinya suatu fakta menyebabkan timbulnya, berubahnya, atau hilangnya suata fakta yang lain). Perumusan –perumusan yang menyatakan hubungan-hubungan mantap antara beraneka fakta dalam alam disebut kaidah-kaidah alam.
         Mengenai kemungkinan adanya kaidah-kaidah tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan masyaakat itu, masih ada beberapa anggapan bahwa fakta-fakta mengenai tingkah laku manusia itu tidak mungkin dapat dirumuskan ke dalam kaidah-kaidah yang mantap, sedangkan sebagian lain berkata bahwa sampai suatu batas tertentu hal itu munkin terjadi.
        
         Para sarjana yang memungkiri adanya kaidah-kaidah mengenai tingkah laku manusia dalam kehidupan masyarakat itu, atau dengan perkataan lain tentang masyarakat dan kebudayaan manusia, mendasarkan anggapan mereka atas kenyataan bahwa hanya peristiwa dan gejala yang masih terjalin dalam gerak peredaran alam semesta ini bersifat mantap, dan dapat berulang kembali dalam ruang dan waktu. Tekanan gas tetap berimbang terbalik denagn volumenya, ditempat mana pu di dunia, dan zaman apa pun juga; logam tetap mengembang bila dipanaskan, di tempat mana pun juga di dunia dan zamn apa pun juga, kera gibon(bylobates) hidup dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari satu jantan, satu betina dengan empat sampai lima anaknya dan bentuk keluarga gibon serupa itu tetap di daerah mana pun ada kera gibon di dunia, dan di zaman mana pun juga. Sebaliknya, manusia adalah suatu mahluk yang pada umumnya telah melepaskan diri dari proses-proses alamiah, maka tingkah lakunya tidak bersiafat mantap untuk seluruh manusia, dan tingkah laku individu yang terjadi pada suatu lokasi dan detik dalam ruang dan waktu tidak dapat berulang lagi. Bentuk keluarga manusia berbeda-beda di berbagai tempat di muka bumi dan dalam berbagai zaman yang lalu. Demikianlah hanya ilmu-ilmu eksakta yang memperhatikan gejala-gejala alamiah yang dapat merumuskan hubungan –hubungan mantap antara fakta-fakta alam ke dalam kaidah-kaidah alam. Antropologi yang memperhatikan tingkah laku manusia dalam masyarakat, tiadak akan dapat merumuskan kaidah-kaidah tentang hubungan antara fakta dan kebudayaan. Antropologi hanya dapat sampai pada suatu “pengertian” tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan itu.
        
  3.verifikasi

         Metode-metode untuk verifikasi atau pegujian terdiri dari cara-cara menguji rumusan kaidah-kaidah atau memperkuat “pengertian” yang telah dicapai, dilakukan dalam kenyataan-kenyataan alam atau masyasrakat yang hidup. Disini proses berpikir berjalan secara deduktif yaitu dari perumusan-perumusan umum kembali kearah fakta-fakta yang khusus. Ilmu antropologi yang lebih banyak mengandung pengetahuan berdasarkan  “pengertian” daripada pengetahuan berdasarkan kaidah, mempergunakan metode-metode verifikasi bersifat kualitaif. Dengan mengunakan metode-metode-metode kualitatif, ilmu antropologi mencoba memperkuat pengertiannya dengan menerapkan pengertian itu dalam kenyataan, yaitu pada beberapa masyarakat yang hidup, tetapi dengan cara mengkhusus dan mendalam.
         Lawan dari metode-metode kualitatif, yaitu metode kuantitatif, mecoba menguji kebenaran dari “pengertian” dan kaidah-kaidah itu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta mengenai kejadian dan gejala sosial-budaya yang menunjukkan asas-asas persamaan. Pada metode kuantitatif sering digunakan cara-cara untuk mengolah fakta sosial dalam jumlah yang besar, metode itu disebut statistik. Metode statistik yang dulu memang kurang dipergunakan dalam ilmu antropolgi, sementara sekarang mulai menjadi suatu metode analisis yang sangat penting dalam ilmu itu.
3.      Ilmu Bantu Lain
Secara garis besar antropologi antropologi memiliki cabang-cabang ilmu  yang terdiri dari:
A. Antpotropologi Fisik
1.  Paleoantropologi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
2. Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengan mengamati ciri-ciri fisik.
B. Antropologi Sosial dan Budaya
1.  Pre histori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan
semua kebudayaan manusia di bumisebelum manusia mengenal tulisan.
2.  Etnolinguistik antropologi adalah ilmu yang mempelajari pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dan beratus-ratus bahasa suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
3.  Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
4.  Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.

4.      Tujuan antropologi
Tujuan antropologi meliputi antara lain:
            1 . tujuan akademikal
Mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna bentuk fisiknya, masyarakat, kebudayaannya.
            2. tujuan praktisnya
mempelajari manusia dalam aneka  warna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu
            3. merumuskan penjelasan- penjelasan tentang perlaku manusia yang didasarkan pada        studi atas semua aspek biologis manusia dan perilakunya disemua masyarakat

5.      Hubungan Antropologi dengan ilmu lain
a.       hubungan antropologi dengan sosiologi
sosiologi mempelajari perilaku dan interaksi kelompok,menelusuri asaal-usul pertumbuhannya serta menganalisiis pengaruh kegiatan kelompok terhadap anggatanya, dengan demikian, objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terutama dari sudut hubungan antar manusia dan proses-proses yang timbul dari hungan manusia dalam masyarakat. Demikian juga antropologi yang berarti ilmu tentang manusia
b.      hubungan antropologi dengan psikologi
hal itu tampak karena dalam psikologi pada hakikatnya mempelajari perilaku manusia dan proses-proses mentalnya degan demikian psikologi membahas faktor-faktor penyebab perilaku manuasia secara internal, seperti motivasi, minat , sikap, konsep diri dll. Ssedangksn dalam antropologi khususnya antropologi budaya lebih bersifat faktor eksternal yaitu : lingkunagn fisik,lingkungan keluargadan lingkungan sosial dalam arti luas
c.       hubungan antropologi dengan ilmu sejarah
antropologi memberi bahan pre history sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah dari tiap bangsa di dunia.selain itu, banyak persoalaan dalam historiografi dari sejarah suatu bangsa dapat dipecahkan dengan metode-metode antoplogi. Demikian juga sebaliknya, bagi para ahli antropologi jelas memerlukan sejarah, terutama sekali sejarah dari suku-suku bangsa dalam daerah yang didatanginya
d.      hubungan antropologi dengan ilmu geografi
geografi atau ilmu bumi mencoba mencapai pengertian tentang keruanngan(alam dunia) ini dengan memberi gambaran tentang bumi serta karakteristik dari segala macam bentuk hidup yang menduduki muka bumi, begitu pun sebaliknya seorang sarjana antropologi sangat memerlukan ilmu geografi, karena tidak sedikit masalah-maslah manusia baik fisik maupun kebudayaannya tidak lepas dari pengaruh lingkungan alamnya
e.       hubungan antropologi dengan ilmu ekonomi
seorang ahli ekonomi yang akan membangun ekonomi di negara-negaranya tentu akan memerlukan bahan komparatif mengenai sikap terhadap kerja, sikap terhadap kekayaan , sistem gotong royong, dan sebagainya yang menyangkut bahan komparatif tentang berbagai unsur sistem kemasyarakatan di negara negara tersebut. Untuk pengumpulan keterangan komparatif tersebut, ilmu antropologi memiliki manfaat yang tinggi bagi seorang ekonom.
f.       hubungan antropologi dengan ilmu politik
seorang ahli antropologi dalam hal mempelajari suatu masyarakat untuk menulis sebuah deskripsi etnografi tentang masyarakt itu, pasti akan menghadapi sendiri pengaruh kekuatan-kekuatan dan proses politik lokal serta aktifitas dari cabang-cabang partai politik nasional. Dalam menganalisis fenomena- fenomena tersebut, perlu mengetahui konsep-konsep dan teori-teori dalam ilmu politik yang ada.

6. Objektivitas dlm Antropologi
Seperti yang ditulis oleh Karl Popper objektivitas harus dicari dalam institusi dan tradisi kritik suatu disiplin (Popper, 1964:155-159). Dengan saling memberi dan menerima kritik terbuka serta melalui saling mempengaruhi antara bermacam-macam bias kita dapat berharap akan munculnya suatu yang mendekati objektivitas. Dengan kata lain objektivitas hakiki suatu disiplin ilmu diupayakan dan ditingkatkan secara komulatif dari masa ke masa.
Kaum antropolog berusaha menempatkan objektivitas itu dalam pemikiran dan sikap para peneliti. Padahal, tempat yang lebih layak untuk mencari dan menemukan objektivitas adalah dalam tradisi kritik
7.      Konsep- konsep antropologi
Antropologi adalah sebuah ilmu baru yang terus berusaha mengidentifikasikan dan mengembangkan konsep-konsepnya , konsep antropogi diantaranya:
1.         Kebudayaan
Istilah kebudayaan berasal dari bahasa latin, yakni cultura dari kata dasar colere  yang berarti berkembang tumbuh. Pengertian kebudayaan secara umum yaitu, kebudayaaan mengacu kepada kumpulan pengetahuan secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Makna itu kontras dengan pengerian kebudayaan sehari-hari yang hanya merujuk pada bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian (D’Andrade,1995: 1999)
Keiseigh mengidentifikasikan ada empat dalam mengidentifikasikan masalah kebudayaan sebagai berikut:
a.       Memandang kebudayaan sebgai sistem adaptif dari keyakinann perilaku yang fungsi primernya adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosial
b.      Memandang bahwa kebudayaan sebagai sistem kognitif yang tersusun dari apapun yang diketahui dalam berfikir menurut cara tertentu dan dapat diterima bagi kebudayaannya.
c.       Memandang kebudayaan sebagai sistem struktur simbol-simbol yang dimiliki
bersama dan memiliki analogi dengan struktur pemikiran manusia
d.      Memandang kebudayaan sebagai sistem simbol yang terdiri atas simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, dapat diidentifikasi, dan bersifat publik


2.         Evolusi
Konsep evolusi mengacu pada sebuah transformasi yang berlangsung secara
Bertahap. Walaupun istilah tersebut merupakan istilah umum yang dapat dipakai dalam berbagai bidang studi (McHenry, 2000: 435). Dalam pandangan para antropolog , istilah evolusi yang merupakan gagasan bahwa bentuk-bentuk kehidupan berkembang dari suatu bentuk ke bentuk lain melalui mata rantai transformasi dan modifikasi yang tidak pernah putus, pada umumnya diterima sebagai awal landasan berfikir mereka . konsep evolusi sering digandengkan dengan pengertian perubahan secara perlahan-lahan tapi pasti, memang diawali dengan Charles Darwin dalam bukunya yang terkenal The Origin of Species (1859).
3.        Daerah Budaya(Culture Area)
            Suatu daerah budaya (culture area) adalah suatu daerah geografis yang memiliki sejumlah ciri-ciri budaya dan kompleksitas lain yang dimilikinya (Banks, 1977:274). Menurut definisi diatas, suatu daerah kebudayaan pada mulanya berkaitandengan pertumbuhan kebudayaan yang menyebabkan timbulnya unsur-unsur baru yang akan mendesak unsur-unsur lama ke arah pinggir , sekeliling daerah pusat pertumbuhan tersebut,. Oleh karena itu untuk memperoleh penelitian tentang unsur-unsur budaya kuno terdapat di daerah pinggir sungai yang dikenal dengan marginal survival
4.         Enkulturasi
            Konsep enkulturasi mengacu kepada suatu proses pembelajaran kebudayaan
(Soekanto,1993: 167). Dengan demikian, pada hakikatnya setiap orang sejak kecil sampai tua, melakukan prosesenkulturasi. Mengingat manusia sebagai makluk yang di anugrahi kemampuan untuk berfikir dan bernalar sangat sangat memungkinkan untuk setiap waktu meningkatkan kemampuan kognitif, afektif , dan psikomotornya
5.         Difusi
                        Difusi adalah penyebaran unsu-unsur kebudayaan secara meluas sehingga
melewati batas tempat di mana kebudayaan itu timbul (soekanto, 1993: 150). Dalam proses difusi ini erat kaitannya dengan konsep inovasi (pembaharuan).
            Menurut Everett M. Progres dalam karyanya diffusion of Inovation (1983), cepat tidaknya suatu proses difusi erat hubungannya dengan empat elemen pokok,
(a) Sifat inofasi, (b) komunikasi dengan saluran tertentu (c) waktu yang tersedia, dan (d) sistem sosial pada warga masyarakat.   

6.        Akulturasi
Akulturasi adalah proses pertukaran ataupun sling mempengaruhi dari suatu
kebudayaan asing yang berbeda sifatnya sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diakomodasikan dan diintergrasikan kedalam kebudayaan itu sendiri tanpa
kehilangan kepribadiannya sendiri (Koentjanigrat, 1990: 91). Proses akulturasi sangat penting dalam pembelajaran ilmu-ilmu sosial maupun studi sosial.
7.        Etnosentrisme
Tiap tiap kelompok cenderung untuk berfikir bahwa kebudayaan dirinya itu dalah surerior (lebih baik dan lebih segalanya) daripada semua budaya yang lain. Inilah yang disebut etnosentrisme. Jandt menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan penghambat ketiga dalam keterampilan komunikasi interkultural setelah kecemasan dan pengumpamaan persamaaan sebagai perbedaan. Tercapainya keteramppilan komonikasi interkulturan yang optimal dapat meninagkatkan rasa  saling menghargai, memiliki, dan solidaritas yang pada  golirannya yang mampu memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.
8.        Tradisi
Tradisi adalah suatu perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi bagian dari suatu budaya yang telah lama dikenal sehingga menjadi adat istiadat da kepercayaan secara turun temurun (Soekanto, 1993: 520). Pentingnya seorang siswa mempelajari kajain tradisi mengandung nilai-nilai keluhuran budi yang tinggi dan sering tidak tersentuh oleh agama maupun kebudayaan global.
9.             Ras dan Etnik
Suatu ras adalah sekelompok orang yang memiliki ciri biologi ( fisik) tertentu
atau suatu populasi yang memiliki suatu kesamaan dalam sejumlah unsur biologis atau fisik khas yang disebabkn oleh faktor hereditas atau keturunan (Oliver, 1964: 153).
Sedangkan etnik menurut Merger (1985: 7), mengemukakan etnik lebih menekankan sebagian kelompok sosial bagian dari ras yang memiliki ciri- ciri budaya yang sifatnya unik. Bangsa Indonesia memiliki jumlahnya hampir 500 etnik, tersebar dari Sabang sampai Merauke.



10.         Stereotip
Stereotip adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu stereos yang berarti solid dan tupos yang berarti citra atau kesan. Suatu sterotip mlanya adalah suatu rencana cetekan yang begitu terbentuk, sulit diubah. Adorno dkk. (1950) menngemukakan bahwa kekuatan sterotip merepresentasikan suatu usaha untuk mengungkapkan beberapa dinamika tersembunyi dari anti semitisme, etnosentrisme, dan prediskoposisi yang lebih umum terhadap pemikiran yang terlalu sempit (fanatik) yang diasosiasikan dengan sistem kepercayaan fasis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar