Dangling Rainbow Hearts

Sabtu, 30 Maret 2013

ILMU PSIKOLOGI

ILMU PSIKOLOGI

A.      Sejarah Perkembangan Psikologi
Pada zaman Yunani kuno, Plato dan Aristoteles dianggap sebagai pelopor besar dalam psikologi. Plato (427-347 SM) yang beranggapan jiwa manusia terbagi atas dua bagian, yaitu jiwa rohaniah, dan jiwa badaniah. Jiwa rohaniah bersifat abadi, tidak pernah mati, sedangkan jiwa badaniah tidak. Selanjutnya tentang jiwa menurut Plato yang terkenal dengan konsepsinya Trichotomi dalam diri manusia terdapat jiwa yang meliputi pikiran atau kecerdasan (di kepala), kemauan (di dada), dan nafsu/perasaan (di perut). Sedangkan Aristoteles (384-323 SM) lebih dikenal dengan Dichotomi, di mana jiwa meliputi kecerdasan dan kemauan.
Pada tahun 1875, Wilhelm Wundt (1832-1920) yang berhasil mendemonstrasikan sensasi dan persepsi di Leipzig, bersamaan waktunya dengan Willian James, psikolog Amerika Serikat yang mendirikan laboratorium di Harvard. Sehingga tahun itu dikenal sebagai tahun berdirinya psikologi eksperimental (Boeree, 2005: 292; Madsen, 1991: 116-117). Kemudian pada tahun 1879, Wundt menjadikan murid pertama yag lulus sebagai peneliti psikologi sejati, itulah tonggak bersejarah yang lain. Pada tahun 1881, ia membentuk jurnal Philosophische Studien. Momentum lainnya pada tahun 1883, ia mulai pelajaran pertama yang berjudul Psikolgi Eksperimental, sedangakan pada tahun 1894, usahanya diberi penghargaan dengan membentuk secara resmi sebuah Institut Psikologi Eksperimental di Leipzig yang merupakan instasi psikologi pertama di dunia (Boeree, 2005: 292).
Suatu perkembangan lainnya dalam sejarah psikologi ialah yang dipelopori oleh Sigmund Freud, seorang psikiater Austria (1856-1939) yang secara sistematis dan empiris telah menunjukkan bawa pergolakan jiwa manusia tidak hanya melibatkan alam sadar bagi diri orang yang bersangkutan, tetapi juga melibatkan pergolakan yang tidak sadar (alam bawah sadar) pada diri orang tersebut. Kemudian teori dikembangkan oleh beberapa murid dan pengikut Freud.
B.       Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani Psychology yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harafiah psikologi diartikan sebagai ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya. Dalam beberapa dasawarsa ini istilah jiwa sudah jarang dipakai dan diganti dengan istilah psikis.
Ada banyak ahli yang mengemukakan pendapat tentang pengertian psikologi, diantaranya yaitu:
1.        Pengertian Psikologi menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat  secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
2.        Pengertian Psikologi menurut Dakir (1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
3.        Pengertian Psikologi menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.
4.        Dari beberapa definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.
Dapat diketahui bahwa pengertian psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku.Pada hakekatnya tingkah laku manusia itu sangat luas, semua yang dialami dan dilakukan manusia merupakan tingkah laku. Semenjak bangun tidur sampai tidur kembali manusia dipenuhi oleh berbagai tingkah laku. Dengan demikian objek ilmu psikologi sangat luas. Karena luasnya objek yang dipelajari psikologi, maka dalam perkembangannya ilmu psikologi dikelompokkan dalam beberapa bidang, yaitu :
1.        Psikologi Perkembangan, yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku yang terdapat pada tiap-tiap tahap perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupannya.
2.        Psikologi Pendidikan, yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam situasi pendidikan.
3.        Psikologi Sosial, ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan masyarakat sekitarnya.
4.        Psikologi Industri, ilmu yang mempelajari tingkah laku yang muncul dalam dunia industri dan organisasi.
5.        Psikologi Klinis, ilmu  yang mempelajari tingkah laku manusia yang sehat dan tidak sehat, normal dan tidak normal, dilihat dari aspek psikisnya.

C.      Metode Psikologi
Dalam menggunakan metode yang dipakai, ilmu psikologi mengenal beberapa metode kerja, yaitu:
1.        Metode Intropeksi
       Metode pemeriksaan yang dilaksanakan dengan jalan meminta kepada orang percobaan melahirkan segala peristiwa-peristiwa kejiwaannya setelah ia selesai mengalami sesuatu.
2.        Metode Instropeksi Eksperimental
   Metode introspeksi yang dilaksanakan dengan melakukan eksperimen (percobaan secara disengaja dan dalam suasana yang dibuat).
3.        Metode Extrospeksi
       Metode yang dilakukan dengan jalan mengamati dan mencatat segala tingkah laku dan gerak-gerik seseorang, setelah orang itu diberi sesuatu perangsang.
4.        Metode Angket
       Metode yang dilakukan dengan menggunakan deretan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh orang banyak.
5.        Metode Pengumpulan Bahan
Metode yang dilaksanakan dengan jalan mengumpulkan hasil-hasil karya orang percobaan dengan maksud dari hasil karya-karyanya itu si penyelidik dapat mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan jiwanya.
6.        Metode Perangsang
       Metode yang dilakukan dengan jalan memberi perangsang kepada orang percobaan, kemudian kepadanya ditanyakan apakah ia sudah menyadari adanya perangsang itu apa belum.
7.        Metode Pernyataan
       Metode yang dilakukan dengan jalan memberi perangsang kepada orang percobaan, kemudian kepadanya diselidiki apakah tingkah laku yang terjadi pada orang percobaan itu sesudah menerima perangsang.
8.        Metode Reaksi
       Metode yang dilakukan dengan jalan memberi perangsang kepada orang percobaan, kemudian diamati reaksi apakah yang diberikan orang percobaan itu setelah reaksi terhaap perangsang tersebut.
9.        Metode Klinis
       Metode yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab atau interview dengan orang percobaan di dalam klinik-klinik dan metode ini bersifat medis.
10.    Metode Eksperimen
Metode ini bisa dilakukan di dalam atau di luar laboratorium.Metode ini digunakan untuk menyelidiki besaran pengaruh dan suatu penelitian yang diujicobakan.
11.    Metode Observasi
Metode ini secara langsung mengamati terhadap sesuatu yang diteliti, baik itu manusia atau hewan.Metode ini dapat digunakan di dalam atau di luar laboratorium.Data yang dapat diperoleh melalui metode ini adalah pengamatan perilaku, pencatatan perubahan fisiologis dan jawaban yang diperolehuntuk setiap pertanyaan yang diajukan mengenai perasaan para subjek sebelum, selama dan sesudah adanya penelitian.
12.    Metode Survei
Metode ini menggunakan kuesioner atau wawancara dalam ukuran sampel besar untuk mengetahui informasi, seperti pendapat politik, pilihan para konsumen, sebab-sebab mereka partisipatif atau tidak parisipatif dalam pemilu dan sebagainya.
13.    Metode Tes
       Metode ini digunakan untuk mengukur segala jenis kemampuan, seperti minat, bakat, intelegensi, sikap maupun tes prestasi belajar.
14.    Metode Riwayat Hidup
       Metode penelaahan riwayat hidup secara ilmiah dikenal sebagai riwayat kasus, merupakan sumber data yang penting bagi ahli psikologi. Sebagian besar riwayat kasus dipersiapkan dengan cara merekontruksi riwayat hidup seseorang yang didasarkan pada kejadian dan catatan yang teringat.
·      Metode surut ke belakang dapat mengakibatkan adanya distorsi kejadian atau adanya hal yang terlupakan, tetap ia sering merupakan satu-satunya metode yang tersedia.
·      Metode riwayat kasus, juga dapat didasarkan pada studi longitudinal. Jenis studi ini mengikuti seorang individu atau kelompok individu dalam jarak waktu yang panjang dengan melakukan observasi secara berkala.

D.      Pendekatan Psikolgi
Pendekatan psikologi dilihat dari beberapa sudut pandang (Hasan, 2011: 425) :
1.        Psikologi Neurobiologi yaitu dtandai dengan menghubungkan tindakan kita dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam tuubuh kita, terutama dalam otak dan sistem saraf.
2.        Pendekatan Behaviour (perilaku) yaitu berfokus pada kegiatan luar organisme yang dapat diamati dan diukur.
3.        Pendekatan Kognitif yaitu lebih menekankan cara kerja otak untuk mengolah informasi yang masuk secara aktif dan mengubahnya dengan berbagai cara.
4.        Pendekatan Psikoanalitik yaitu menekankan motif bahwa sadar berakar dari dorongan seksual dan agresi yang ditekankan pada masa kanak-kanak.
5.        Pendekatan Fenomenologi dan Humanistik yaitu berfokus pada pengalaman subjektif seseorang kebebasan memilih, dan motivasi terhadap aktualisasi diri.

E.       Jenis-Jenis Psikologi
Beberapa jenis ilmu psikologi, secara sistematis maupun terapan, dapat dirinci sebagai berikut:
1.        Psikologi Sosial
Psikologi Sosial merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang sosial (Shaw dan Costanzo, 1970:3). Dari definisi lain, psikologi sosial merupakan suatu kajian tentang sifat, fungsi, fenomena perilaku sosial dan pengalaman mental dari individu dalam sebuah konteks sosial. Jones (2000:996) berpendapat bahwa diantara fenomena psikologi sosial ini, antara lain agresi dan kemarahan, altruisme dan perilaku membantu, sikap sosial persuasi, ketertarikan dan hubungan sosial, atribusi dan kognisi sosial, tawar-menawar dan negosiasi, konformitas dan proses pengaruh sosial, kerja sama dan kompetisi, pembuatan keputusan kelompok, presentasi diri dan manajemen kesan, peran-peran seksual, perilaku seksual, pembelajaran sosial dan sosialisasi.
2.        Psikologi Klinis dan Konseling
       Psikologi Klinis merupakan salah satu bidang psikologi terapan yang berperan sebagai salah satu disiplin kesehatan mental dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi untuk memahami, mendiagnosis dan mengatasi berbagai masalah atau penyakit psikologi (Mens, 2000:122).Psikologis Konseling merupakan suatu psikologi terapan yang berusaha menciptakan, menerapkan dan menyebarkan pengetahuan mengenai pencegahan dan penanggulangan gangguan fungsi manusia dalam berbagai kondisi (Brown dan Lent, 1922).
3.        Psikologi Konstitusional
       Psikologi Konstitusional merupakan suatu bidang studi tentang hubungan antara struktur morfologis dan fungsi fisiologis tubuh serta hubungan antara fungsi-fungsi psikologi sosial (Lehrer, 2000:168).
4.        Psikofarmologi
       Psikofarmologi merupakan pengetahuan tentang obat untuk mengobati gangguan psikiatris. Pope (2000:866) berpendapat bahwa pada perkembangan selanjutnya dalam bidang pengobatan psikologi, pada tahun 1955 ditemukan 3 obat, yaitu obat antipsikotik, antidepresan dan lithium. Obat antipsikotik berfungsi sebagai penetralan khayalan atau kepercayaan pada hal-hal yang tidak nyata dan halusinasi (perasaan melihat, mendengar suara dan sejenisnya), yang merupakan gejala umum dalam skezoprenia dan penyakit kegilaan depresif.Obat antidepresan berfungsi meringankan pasien yang mengalami depresi mayor atau fase tertekan dari penyakit depresi kejiwaan.Lithium merupakan obat yang unik diantaa obat-obat psikiatrik lainnya, terdiri atas sebuah ion sederhana dan bukan molekul kompleks (Pope, 2000:867).
5.        Psikologi Okupasional
       Psikologi Okupasional merupakan suatu terminologi yang tampaknya merangkum suatu bidang kajian psikologi industri, psikologi organisasi, psikologi vokasional dan psikologi sumber daya manusia (Herriot, 2000:713).Psikologi okupasional banyak membahas tentang hubungan antara organisasi dengan individu dalam teori peranan, makna kerja dalam pendekatan-pendekatan fenomenologi terhadap kognisi, karier-karier kehidupan (life careers) dalam teori-teori kehidupan (life spans-theories) perkembangan manusia dan hubungan antarorganisasi dan antarnegara-kebangsaan dalam teori-teori konflik dan negosiasi.
6.        Psikologi Politik
       Psikologi politik merupakan bidang interdisipliner yang tujuan substansif dasarnya dalah untuk menyingkap saling keterkaitan antar proses psikologi dan politik (Renshon, 2000:784). Psikologi politik menggunakan kajian-kajian pendekatan ilmu politik, terutama perilaku politik massa, kepemimpinan politik dan pengambilan keputusan serta konflik politik di dalam dan antrabangsa.
7.        Psikologi Sekolah dan Pendidikan
Psikologi sekolah merupakan kajian tentang perilaku peserta didik di sekolah yang substansinya merupakan gabungan psikologi perkembangan anak, psikologi pendidikan dan psikologi klinis. Psikologi pendidikan merupakan kajian tentang perilaku dalam bidang proses belajar-mengajar.
8.        Psikologi Perkembangan
       Psikologi perkembangan merupakan sebuah bidang studi yang menekankan pada perkembangan manusia dan berbagai faktor yang membentuk perilakunya sejak lahir sampai berumur lanjut.
9.        Psikologi Kepribadian
       Psikologi kepribadian merupakan sebuah ilmu perilaku tentang gaya hidup individu atau cara karakteristik seseorang dalam bereaksi terhadap masalah-masalah dan tujuan hidup (Hall dan Lindzey, 1993:182).
10.    Psikologi Lintas Budaya
       Berry (1997:2) mengungkapkan bahwa psikologi lintas budaya adalah kajian empiris mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan. Sebagai suatu disiplin akademik yang sistematis, psikologi lintas budaya sesungghunya tidak hanya berkutat pada keragaman, tetapi juga keseragaman (uniformity).
11.    Psikologi Rekayasa
Psikologi rekayasa merupakan suatu ilmu yang bersifat fleksibel dan komprehensif baik dipandang dari segi faktor manusiawi dan rekayasa faktor manusiawi. Psikologi rekaya ini banyak menggunakan ilmu bantu lain seperti anatomi, fifiologi, sosiologi, desain industri, arsitektur serta macam-macam bidang teknik.
12.    Psikologi Lingkungan
Psikologi lingkungan merupakan suatu ilmu yang membahas tentang sebuah keterkaitan dengan keturunan atau hereditas sebagai sumber perkembangan perilaku dan perubahan-perubahan individual. Dalam hal ini, lingkungan berhubungan dengan proses belajar yang bertumpu pada efek kumulatif  dari respons-respons individu terhadap rangsangan lingkungan individu dalam hidupnya.
13.    Psikologi Konsumen
       Psikologi konsumen merupakan sebuah ilmu yang membahas tentang tingkah laku individu sebagai konsumen.Bidang psikologi ini mulai dengan psikologi periklanan dan penjualan, objeknya adalah komunikasi yang efektif, baik dari pihak pabrik maupun distributor kepada konsumen.
14.    Psikologi Industri dan Organisasi
Psikologi industri dan organisasi menerapkan dari prinsip-prinsip psikologi industri dan perdagangan. Psikologi tersebut didefinisikan menurut kapan dan dimana ia dipraktikan, bukan menurut pernyataan atau prinsip-prinsip tertentu. Ada 3 kajian dalam bidang ilmu psikologi industri dan organisasi, yaitu psikologi personalia, psikologi industri dan psikologi sumber daya manusia.Psikologi personalia menekankan pada pembuatan keputusan mengenai seleksi personalia, pelatihan, promosi, transfer pekerjaan, cuti, pemutusan hubungan kerja, kompensasi dan sebagainya. Psikologi industri lebih terfokus pada penyesuaian timbal balik antara orang-orang dan lingkungannya.Psikologi sumber daya manusia memfokuskan terhadap hal bagaimana mencocokkan individu dengan pekerjaannya.

F.       Ilmu Bantu / Sub Ilmu Bantu
1.      Ilmu Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat segala sesuatu. Karena itu, filsafat juga mempelajari masalah-masalah hakikat jiwa, hakikat hidup, hubungan antara jiwa dan Tuhan sebagai penciptanya dan lain sebagainya. Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dalam penyelidikannya filsafat berangkat dari apa yang dialami manusia Ilmu psikologi menolong filsafat dalam penelitiannya. Kesimpulan filasafat tentang kemanusiaan akan ‘pincang’ dan jauh dari kebenaran jika tida mempertimbangkan hasil psikolog .
2.      Ilmu Biologi
Biologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang kehidupan, semua benda yang hidup menjadi obyek biologi, dan cukup banyak ilmu-ilmu yang tergabung didalamnya.
3.      Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam berobyekkan pada benda-benda mati.
4.      Ilmu Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang berpengaruh pada psikologi Sosial.
Sosiologi adalah suatu bidang ilmu yang terkait dengan perilaku hubungan antar individu, atau antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosialnya.
5.      Ilmu Paedagodiek
Paedogiek sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak dari lahir sampai mati tidak akan sukses
6.      Ilmu Antropologi
Antropologi adalah ilmu yang memfokuskan pada perilaku sosial dalam suprastruktur budaya tertentu. Menurut kamus Bahasa Indonesia, antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang asal- usul manusia, kepercayaannya, bentuk fisik, warna kulit, dan budayanya di masa silam.
7.      Ilmu Politik
Ilmu politik ilmu tentang kehidupan Negara yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat: ilmu politik mempelajari Negara-negara itu melakukan tugas-tugasnya.
8.      Ilmu Komunikasi
Ilmu komunikasi adalah ilmu ketika manusia melakukan interaksi pada lingkungannya.
9.      Ilmu Pendidikan
Ilmu tentang proses belajar mengajar antara seorang guru kepada muridnya.
10.  Ilmu Agama
didalam agama mengajarkan tentang bagaimana agar manusia tanpa paksaan bersedia menjadi seorang hamba yang patuh dan taat pada ajaran agama.
11.  Ilmu geografi 
Ilmu geografi adalah ilmu yang berhubungan dengan faktor wilayah atau tempat tinggal.
12.   Ilmu ekonomi
Ilmu ekonomi adalah ilmu tentang kebutuhan tubuh dan jiwa manusia.
13.  Ilmu-Ilmu keguruan
Ilmu-ilmu keguruan yaitu ilmu yang berhubungan dengan mendidik dan mengajar dalam pendidikan.
14.   Ilmu Fisiologi
Ilmu Fisiologi adalah ilmu tentang tubuh manusia.

G.      Tujuan / Kegunaan
Setiap kita mempelajari sesuatu, pastilah memiliki tujuan mengapa kita mempelajari hal tersebut.Begitupula mempelajari psikologi, pastinya ada tujuan dan kegunaanya.
Garis besar tujuan orang mempelajari psikologi adalah untuk menjadikan hidup manusia lebih baik, bahagia dan sempurna.Karena, hanya dengan mempelajari hal ihwal manusia, kita bisa menghindari atau paling tidak meminimalisasikan suatu masalah antar manusia.Begitupula mempelajari psikologi ada beberapa manfaat yang kita ambil darinya. Berikut penjelasan tujuan dan kegunaan mempelajari psikologi:
a.       Untuk memperoleh pemahaman tentang gejala-gejala jiwa, dan pengertian yang lebih sempurna tentang tingkah laku sesama manusia pada umumnya dan anak-anak pada khususnya.
b.       Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku manusia dan anak.
c.        Untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan dengan baik.
H.      Hubungan dengan Ilmu Lain
Hubungan psikologi dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling membantu, saling mengisi satu sama lain:
1.        Hubungan Psikologi dengan filsafat
Pada awalnya ilmu psikologi adalah bagian dari ilmu filsafat , tetapi kemudian memisahkan diri dan berdiri sendiri sebagai ilmu yg mandiri . Meskipun psikologi memisahkan diri dari filsafat , namun psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat , karena kedua ilmu ini memiliki ilmu obyek yang sama yaitu manusia sebagai makhluk hidup . Namun berbeda dalam pengkajiannya .
Dalam ilmu psikologi, yang dipelajari dari manusia adalah mengenai jiwa
atau mental, tetapi tidak dipelajari secara langsung karena bersifat abstrak dan membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut, yakni berupa tingkah laku dan proses kegiatannya.
Sedangkan dalam ilmu filsafat yang dibicarakan adalah mengenai hakikat dan kodrat manusia serta tujuan hidup manusia .Sehingga ilmu psikologi dan filsafat terdapat suatu hubungan yang timbal balik dan saling melengkapi antara keduanya.
2.        Hubungan Psikologi dengan Biologi
Baik psikologi dan biologi sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu tersebut meninjau dari sudut yang berlainan, namun dari segi-segi tertentu kedua ilmu itu ada titik-titik pertemuan. Biologi maupun psikologi mempelajari perihal proses-proses kejiwaan. Seperti telah dikemukakan diatas, bahwa disamping adanya hal yang sama-sama dipelajari oleh kedua ilmi tersebut, misalnya soal keturunan. Ditinjau dari segi biologi adalah hal yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan yang turun temurun dari suatu generasi ke generasi lain. Soal keturunan juga dibahas oleh psikologi, misalnya tentang sifat, intelegensi, dan bakat. Karena itu kurang sempurna kalau kita mempelajari psikologi tanpa mempelajari biologi.
3.        Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pengetahuan Alam
Keduanya memiliki persamaan metode, yaitu metode induktif. Penyelidikan psikologi sejalan dengan metodologi riset dalam periode hipotesis dan eksperimen, dimana kebenaran diperoleh melalui proses pengajuan hipotesis yang dilanjutkan dengan pengujian melalui eksperimen-eksperimen. Hubungan Psikologi dan Ilmu Alam Pada permulaan abad ke-19 psikologi dalam penelitiannya banyak terpengaruh oleh ilmu alam. Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen Objek penelitian psikologi: manusia dan tingkah lakunya yang selalu hidup dan berkemban Objek penelitian ilmu alam : benda mati.
Ilmu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologi. Dengan memisahkan diri dari filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan yang cukup cepat, hingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-ilmu lain, termasuk psikologi, khususnya metode ilmu pengetahuan mempengaruhi perkembangan metode dalam psikologi. Karenanya sebagian ahli berpendapat, kalau psikologi ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti cara kerja yang ditempuh oleh ilmu pengetahuan alam. Psikologi merupakan ilmu yang berdiri sendiri terlepas dari filsafat, walaupun pada akhirnya, metode ilmu pengetahuan alam tidak seluruhnya digunakan dalam lapangan psikologi.
Oleh karena perbedaan dalam obyeknya. Sebab ilmu pengetahuan alam berobyekkan pada benda-benda mati. Sedangkan psikologi berobyekan pada manusia hidup, sebagai makhluk yang dinamik, berkebudayaan, tumbuh, berkembang dan dapat berubah setiap saat.
Sebagaimana diungkapkan diatas bahwa psikologi menyelidiki dan mempelajari manusia sebagai makhluk dinamis yang bersifat kompleks, maka psikologi harus bekerja sama dengan ilmu-ilmu lain. Tapi sebaliknya, setiap cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia akan kurang sempurna apabila tidak mengambil pelajaran dari psikologi. Dengan demikian akan terjadi hubungan timbal balik.
4.        Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia dalam hidup bermasyarakat. Obyek dari sosiologi adalah adalah manusia. Sehingga antara psikologi dengan sosiologi sangat berhubungan. Dan tidak mengherankan jika suatu waktu ada titik pertemuan dalam meninjau manusia, misalnya soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting adalah hidup bermasyarakat.
Sedangkan tinjauan psikologi adalah tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan yang didorong oleh motif tertentu yang membat manusia bertingkah laku/berbuat. Psikologi dengan sosiologi mempunyai analisis kemasyarakatan yakni menggunakan faktor-faktor secara luas untuk menjelaskan perilaku sosial. Salah satu contohnya dalam hal pergaulan hidup yang terdiri dari beberapa golongan seperti suku bangsa, keluarga, perhimpunan, kelas, dll.
Sementara bidang studi lain dari psikologi yang tertarik pada keunikan dari perilaku individu adalah psikologi kepribadian. Pendekatan psikologi kepribadian adalah membandingkan masing-masing orang. Sementara pendekatan psikologi dengan sosiologi adalah mengidentifikasikan respon dari sebagian besar orang dalam suatu situasi dan meneliti bagaimana situasi itu mempengaruhi respon tersebut.
Psikologi dengan sosiologi lebih berpusat pada usaha memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi sosial yang terjadi. Dan mempelajari perasaan subyektif yang biasa muncul dalam situasi sosial tertentu, dan bagaimana perasaan itu mempengaruhi perilaku seseorang. Sebagai contoh, salah satu prinsip dasar psikologi dengan sosiologi adalah bahwa situasi frustasi akan membuat orang marah, yang kemungkinan besar timbulnya mereka melakukan perilaku agresi, yang merupakan penjelasan alternative mengenai sebab timbulnya kejahatan.
Dan kita semua menyadari bahwa tingkah laku manusia tidak dapat terlepas dari keadaan sekitar, sehingga tidaklah sempurna jika meninjau manusia berdiri sendiri dan terlepas dari masyarakat yang melatarbelakanginya
5.        Hubungan Psikologi dengan Paedagodiek
Kedua ilmu ini hampir tidak dapat dipisahkan satu sama lain, oleh karena mempunyai hubungan timbal balik . Paedogiek sebagai ilmu yang bertujuan untuk memberikan bimbingan hidup manusia sejak dari lahir sampai mati tidak akan sukses, bilamana tidak dapat mendasarkan diri kepada psikologi, yang tugasnya memang memang menunjukkan perkembangan hidup manusia sepanjang masa, bahkan ciri dan wataknya serta kepribadiannya pun ditunjukkan oleh psikologi.
6.        Hubungan Psikologi dengan Antropologi
Eratnya hubungan psikologi dan antropologi sehingga muncullah sub ilmu yang salah satunya bernama anthropology in mental health, pada sub ilmu ini sangat terlihat bahwa psikologi dan antropologi saling terkait, seperti contoh bahwa penyakit jiwa tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh kelainan biologis namun juga oleh emosi atau mental yang tertekan sehingga membuat orang tersebut mengalami penyakit jiwa, keadaan jiwa manusia itu tergantung pada aspek- aspek social budaya. Disini terlihat bahwa antara psikologi dan antropologi saling terkait.
7.        Hubungan Psikologi dengan Politik
Ternyata psikologi ada hubungannya dengan psikologi dengan politik, dalam hal ini yang banyak hubungannya dengan politik adalah psikologi social, dalam hal politik psikologi berfungsi untuk memahami perilaku para pelaku politik agar dapat bersosialisasi dengan masyarakat dengan baik juga untuk memperlihatkan sikap atau respon yang diberikan oleh masyarakat sehingga pelaku politik bisa mempelajarinya agar pelaku politik dapat member yang terbaik kepada masyarakat. Sikap yang ditunjukkan oleh para masyarakat terhadap para pelaku politik inilah yang diuraikan psikologi social.
8.        Hubungan Psikologi dengan Ilmu Komunikasi
Hubungan psikologi dengan ilmu komunikasi mungkin hampir sama dengan psikologi sosial, karena dalam hal ini komunikasi mempelajari peristiwa sosial yang terjadi ketika manusia melakukan interaksi pada lingkungannya. Sehingga disini terlihat jelas bahwa erat hubungan antara psikologi dan ilmu komunikasi, yaitu pada intinya mempelajari interaksi manusia kepada lingkungannya.
9.        Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan
Psikologi dan ilmu pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pendidikan atau proses belajar mengajar akan baik apabila seorang guru mengerti keadaan psikis setiap anak melalui respon maupun perkembangan pola pikir anak tersebut.
10.    Hubungan Psikologi dengan Ilmu Agama
Psikologi dengan agama merupakan dua hal yang berhubungan erat. Mengingat agama sendiri diturunkan kepada umat manusia dengan dasar-dasar yang disesuaikan oleh kondisi psikologi dan situasi psikologi. Tanpa dasar, agama akan sulit diterima oleh manusia. Karena didalam agama mengajarkan tentang bagaimana agar manusia tanpa paksaan bersedia menjadi seorang hamba yang patuh dan taat pada ajaran agama. Dalam agama, penuh dengan unsur-unsur paedagogis yang merupakan essensi pokok dari tujuan agama yang diturunkan oleh tuhan kepada manusia. Unsur paedagogis dalam agama tidak mempengaruhi manusia kecuali bila disampaikan sesuai petunjuk psikologis.
Setiap orang dapat menghayati perasaan keagamaan dirinya dan dapat meneliti keberagaman orang lain. Makna agama dalam psikologis pasti berbeda-beda pada tiap orang. Bagi sebagian orang, agama adalah ritual ibadah, seperti sholat dan puasa. Bagi agama lain adalah pengabdian kepada sesama makhluk atau pengorbanan untuk suatu keyakinan.
Hubungan psikologi dengan agama mempelajari psikis manusia dalam hubungannya dengan manifestasi keagamaan, yaitu kesadaran agama dan pengalaman agama. Kesadaran agama hadir dalam pikiran dan dapat dikaji dengan intropeksi. Pengalaman agama sendiri merupakan perasaan yang hadir dalam keyakinan sebagai buah dari amal keagamaan semisal melazimkan dzikir. Jadi obyek studinya dapat berupa gejala-gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan dan proses hubungan antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaan.
Antara psikologi dengan agama tidak bermaksud untuk melakukan penelitian/kritik terhadap ajaran agama tertentu, tapi semata untuk memahami dan melukiskan tingkah laku keagamaan sebagai ekspresi dalam alam pikiran, perasaan, dan sebagainya akibat adanya keyakinan agama tertentu. Contoh bahwa psikologi dengan agama mempunyai hubungan erat dalam memberikan bimbingan manusia adalah jika manusia melanggar norma-norma agama dipandang dosa.
Perasaan berdosa inilah yang mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun tidak diberikan hukuman lahiriyah. Psikologi memandang bahwa orang yang berdosa telah menghukum dirinya sendiri karena berbuat pelanggaran. Jiwa mereka tertekan dan dihantui perasaan bersalah. Dan bila yang bersangkutan tidak dapat mensublimasikan perasaannya, akan mengakibatkan semacam penyakit jiwa yang merugikan dirinya sendiri. Dalam hal demikian itulah penuduk agama sangat diperlukan untuk memberikan jalan sublimatif serta katharisasi mengingat hubungan antara keduanya.
11.    Hubungan Psikologi dengan Ilmu geografi
Dalam ilmu geografi juga ada hubungan dengan psikologi, yaitu faktor wilayah atau tempat tinggal, dengan bertempat tinggal maka seorang individu akan melakukan sesuatu yang ada di tempat tinggalnya, karena sebagian besar perkembangan individu terjadi dalam konteks interaksi sosial di sekitarnya.    
12.    Hubungan Psikologi dengan Ilmu ekonomi
Bila dilihat secara sepintas, kedua bidang ilmu di atas memang tidak ada hubungannya satu sama lain, namun pada kenyataannya, kedua bidang ilmu tersebut sangat terkait satu dengan yang lainnya. ilmu psikologi adalah ilmu tentang kejiwaan manusia, sementara ilmu ekonomi adalah ilmu tentang kebutuhan tubuh dan jiwa manusia. bahkan di dalam ilmu ekonomi, khususnya pada bagian marketing management dan human resource management, ilmu psikologi benar-benar digunakan sebagai basis dari segala proses pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan perusahaan: profit yang sebesar-besarnya serta keunggulan daya saing dalam jangka panjang. Jiwa manusia juga memiliki kebutuhan, seperti layaknya tubuh manusia yang memiliki kebutuhan. hanyabedanya, jiwa manusia memiliki kebutuhan spiritual/emosi, sementara tubuh manusia memiliki kebutuhan fisik. jiwa manusia hanya bisa dirasakan keberadaannya melalui perasaan dan pemikiran, sementara tubuh manusia sudah bisa dirasakan keberadaannya melalui panca indera. namun bagaimanapun, baik jiwa maupun tubuh manusia ditakdirkan untuk saling mempengaruhi. apa yang terjadi pada jiwa manusia akan mempengaruhi kondisi tubuhnya, dan apa yang terjadi pada tubuh manusia akan mempengaruhi kondisi jiwanya.
13.    Hubungan Psikologi dengan Ilmu-Ilmu keguruan
Mendidik dan mengajar yang berhasil diantaranya harus menyesuaikan diri dengan keadaan jiwa anak, dan itu semua memerlukan psikologi. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan Ilmu Pendidikan: bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak didasarkan pada psikologi perkembangan. Hubungan kedua disiplin ilmu ini melahirkan Psikologi Pendidikan Fireworks.
14.    Hubungan Psikologi dengan Ilmu Fisiologi
Fisiologi (ilmu tentang tubuh manusia) dapat dihubungkan dengan ilmu psikologi untuk memperoleh kejelasan tentang bagaimana sebenarnya proses tingkah laku.

I.         Objektivitas / Subjektivitas
Ilmu Psikologi yang mempelajari manusia (human) melalui manifestasi prilaku yang tampak.Manusia merupakan subjek yang berbeda-beda sehingga penilaiannya juga berbeda. Hubungan manusia pada umumnya bersifat subjektif sebagai contoh, “ Seorang Mahasiswa mengajukan rekomendasi beasiswa ditolak oleh dosennya, alasan yang diberikan sang dosen “ Tidak gampang mau melanjutkan studi ke level ini, kamumasih belum berpengalaman, masih muda, dan sebagainya”. Tidak berdasarkan prestasi tetapi berdasarkan pertimbangan subjektif, meskipun akhirnya si Mahasiswa tersebut berhasil memperoleh beasiswa melalui rekomendasi dosen lainnya (tidak terbukti secara subjektif penilian dosen pertama).Maka dengan contoh ini dapat disimpulkan bahwa subjektifitas dari ilmu Psikologi identik dengan interprestasi-interprestasi manusia baik individu maupun kelompokdalam menyingkapi suatu permasalahan tentang penelitian Psikologi, baik itu tentang tingkah laku maupun tentang diri manusia pada khususnya.
Untuk mengetahui mengetahui kebenaran suatu permasalahan dalam Psikologi ini dibutuhkan suatu metode-metode tertentu serta pertimbangan secara terbuka dengan pendekatan objektif agar diperoleh suatu kebenaran yang tidak berat sebelah, yaitu interprestasi-interprestasi tersebut dibandingkan dengan interprestasi lain sehinggailmu Psikologibisa dapat dibuktikan secara objektif. Psikologi yang mnelaah tentang prilaku manusia akan melahirkan sebuah hipotesis dari para ahli yang menliti, hal inilah yang disebut obyektivitas Psikologi.
Setiap orang tentu akan mempunyai penilaian-penilaian yang berbeda-beda terhadap orang lain. Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut pintar, bodoh, baik, sopan, dan sebagainya.Akan tetapi hakl itu dapat ditentukan kebenarannya melalui berbagai metode serta perbandingan para ahli Psikologi, artinya tidak hanya bedasarkan perspektif individual belaka tetapi didasarkan atas penilaian yang objektif atau terbuka.
Psikologi sebagai ilmu empiris yang dalam hal ini termasuk dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, mengejar kepastian dalam dua arti.Pertama, kepastian tentang explanans gejala-gejala yang diselidiki.Kedua, kepastian mengenai kesimpulan yang dapat ditarik dari suatu hukum yang berlaku.Maka, menurut pristilahan yang telah digunakan sehubungan dengan bagan deduktif-nomologis, dapat dikatakan dari bawah ke atas maupun dari atas kebawah. Akan tetapi, yang tercapai hanyalah  suatu taraf keterpercayaan yang berdasarkan pengamatan empiris yaitu tidak akan pernah mencapai satu. Bahkan, kendati hipotesa dan hukum sangatlah terpercaya, keduanya harus tetap terbuka untuk dipastikan salah atau benar.Meskipun objektivitas itu sebagai metode terpercaya, subyektifitas itu perlu juga, karena untuk menemukan hipotesa tentang sebuah permasalahan dalam ilmu Psikologi.

J.        Konsep-konsep Psikologi
Konsep yang dikembangkan dalam ilmu psikologi seperti motivasi, konsep diri, sikap, persepsi, frustasi, sugesti, prestasi, crowding (kerumunan masa), imitasi, kesadaran, fantasi, personalitasi, pikiran, insting atau naluri, dan mimpi.
1.        Motivasi
Motivasi adalah suatu keadaan dan ketegangan individu yang membangkitkan dan memelihara serta mengarahkan tingkah laku yang mendorong (drive) menuju pada suatu tujuan (goal) untuk mencapai suatu kebutuhan (need) (Chaplin, 1999:310; Thoha, 1993: 180-181). Peranan motivasi dalam kehidupan manusia sangat penting, bahkan menurut McCLelland (1953; 1961), seseorang dianggap memiliki motivasi untuk berprestasi, jika ia memiliki keinginan untuk berkarya (berprestasi) lebih baik dari karya (prestasi orang lain).
Motivasi seseorang untuk melakukan suatu tindakan dapat berlangsung baik disadari maupun tidak disadari. Sebab sebagai manusia sering terjadi bahwa kita tidak selalu sepenuhnya menyadari akan sebab dan akibat yang ditimbulkan dari tindakan itu.
2.        Konsep diri
Konsep diri merupakan penlaian tentang dirinya oleh orang lain yang menyangkut aspek physical, perceptual, dan attitudinal (fisik, persepsi, dan kesikapan). Konsep diri merupakan.Dalam kaitannya dengan penilaian tersebut, Cooley mengeluarkan teori tentang Looking Glass Self.Artinya, setiap hubungan sosial di mana seseorang itu terlibat merupakan suatu cerminan diri yang disatukan dalam identitas orang itu sendiri (Johnson, 1986: 28).
Konsep diri yang baik bagi seseorang adalah konsep diri yang positif. Artinya, penilaian tentang dirinya secara internal maupun eksternal adalah seimbang dan valid. Sebaliknya, bagi seseorang yang sombong, tidak sesuai antara penilaan dirinya secara internal dengan eksternal yang suka membual adalah konsep diri negatif. Begitupun bagi seseorang yang kurang memiliki rasa percaya diri, walaupun secara perseptual, fisikal, dan attitudinal sangat memadai, tetap memiliki konsep diri yang negatif.
3.        Sikap
Konsep sikap merujuk pada masalah yang lebih banyak bersifat evaluatif afektif terhadap suatu kecenderungan atas reksi yang dipilihnya. Sikappun menunjukkan penilaian kita apakah itu bersifat positif  atupun negatif terhadap bermacam-macam entitas, misalnya individu, kelompok, objek, tindakan, dan lembaga (Manis, 2000:49). Dengan demikian, sikap sebagai tendensi untuk bereaksi secara menyenangkan ataupun tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, misalnya satu kelompok etnis atau komunitas, adat istiadat atau lembaga. Jelas bahwa ketika dirumuskan, sikap tidak dapat diamati secara langsung, tetapi harus disimpulkan dari perilaku yang jelas , baik verbal maupun non verbal. Dalam istilah yang lebih objektif, konsep sikap mungkin dikatakan berkonotasi konsisten respons dalam kaitannya dengan kategori stimuli.Namun dalam praktiknya, konsep sikap kerap kali tidak terasosiasikan dengan stimuli sosial dan dengan respons bernada emosional.Ini sering kali mencakup penilaian atas nilai (Anastasi dan Urbina, 1997: 42). Sikap pada ghaibnya diukur melalui prosedur tanya jawab langsung atupun tidak langsung dengan responden yang diminta untuk menunjukkan reaksi evaluative mereka terhadap sesuatu atas perilaku seseorang. Sebuah sikap serng kali didefinisikan sebagai tendensi (kecenderungan) untuk bereaksi secara menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap sekelompok stimuli yang ditunjuk, misalnya suatu kelompok etnis, kelompok bangsa, adat istiadat, atau lembaga (Anastasi dan Urbina, 1997: 42).
4.        Persepsi
Istilah persepsi dalam Kamus Lengkap Psikologi karya Chaplin (1999: 358), memiliki arti:
(a)      Proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indra;
(b)     Kesadaran dari proses organis;
(c)      Satu kelompok pengindraan dengan penambahan arti-arti yang berasal dari pengalaman d masa lalu;
(d)     Variable yang menghalangi atau ikut campur tangan, berasal dari kemampuan organsme untuk melakukan pembedaan diantara perangsang;
(e)      Kesadaran intuitif mengenai kebenaran langsung atau keyakinan yag serta merta mengenai sesuatu.
Diatas telah dikemukakan bahwa pengetahuan dan pemahaman diperantara oleh indra kita. Aristoteles mengklasifikasikan indra kita menjadi lima (panca) kategori penglihatan (vision), pendengaran (audition), penciuman (olfaction), perasa (gustation), dan perabaan (groping). Selain itu, ada dua indra yang biasanya tidak kita sadari, yautu kinestis, indra tentang tungkai kita dan indra vestibular, yang memberikan informasi tentang gerakan dan posisi kepala (Leibowitz, 2000: 960).
Persepsi seseorang tentang posisi suatu benda tertentu, memiliki nilai yang lebih objektif dibandingkan jika kita bertanya tentang sikap seseorang terhadap partai politik tertentu. Akan tetapi, persepsi seseorangpun dapat keliru manakala individu mengalami ilusi, dimana dia mengalami gangguan pengamatan  yang tidak sesuai dengan pengindraan sehingga ketika mekanisme normal diaktifkan tidak mampu menangkap stimuli sebenarnya secara akurat.
5.        Frustasi
Konsep frustasi setidaknya menunjuk pada dua pengertian berikut:
(a)      Frustasi merujuk pada terhalangnya tercapainya tujuan yang diharapkanpada saat tertentu dalam rangkaian perilaku. Defnisi ini dianut oleh Dollard, Doop, Miller, Mowrer, dan Sears dalam karyanya Frustation and Aggession (1939: 7). Jadi frustasi dianggap sebagai pembatas eksternal yang menyebabkan seseorang tidak dapat memperoleh kesenangan yang diharapkannya.
(b)     Frustasi sebagai reaksi emosional internal yang disebabkan oleh suatu penghalang. Definisi ni dianut oleh Leonard Berkowitz dalam Agression: Its Causes, Consequences and Control (1995: 42).
Dari dua definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa frustasi merupakan suatu reaksi emosional yang disebabkan gagal atau terhalangnya pencapaian tujuan yang diharapkan. Beberapa peneliti psikologi sosial, kajian tentang frustasi banyak dihubungkan dengan agresi dan kekerasan. Akan tetapi, tidak semua frustasi menimbulkan respons agresif. Individu yang frustasi mungkin akan menarik dirii dari situasi itu dan atau menjadi depresi. Selain itu, tidak semua tindakan agresif merupakan hasil frustasi yang dialami sebelumnya.
Frustasi yang menimbulkan agresi menurut Berkowitz (1995: 47) mengemukakan bahwa hanya terdapat beberapa jenis frustasi yang menyebabkan kecencerungan agresif, terutama jika rintangan itu tidak adil bersifat arbitrer, illegal, atau sifatnya pribadi. Sebagai contoh, beberapa anggota kesebelasan dan supporter Italia dalam kejuaraan sepak bola duna, merasa lebih marah ketika melihat wasit dari Honduras membiarkan lawannya dari Argentina bermain kotor tanpa diberi hukuman.
6.        Sugesti
Sugesti merupakan bagian dari bentuk interaksi sosial yang menerima dengan mudah pengaruh orang lain tanpa diseleksi dengan pemikiran yang kritis. Tanpa penggunaan kekuatan fisik atau paksaan. Keadaan mental seseorang menjadi mudah terkena sugesti orang lain, biasanya didahului oleh simpati, rasa kagum, dan menyenangi sehingga sering mengikuti kehendak atau pengaruh dari orang lain tersebut. Sugesti banyak digunakan untuk memperoleh dukungan, terutama oleh pemimpin-pemimpin politik yang karismatik, seperti Hittler, Bung Karno, Lenin, dan sebagainya.
Namun, tidak berarti bahwa sugesti semata-mata dari pengaruh eksternal (heterosugesti) karena sugesti secara luas merupakan pengaruh psikis yang berasal dari orang lain maupun diri sendiri atau otosugesti (Belen, 1994: 253). Sugesti yang berasal dari diri sendiri atau otosugesti, contohnya rasa sakit-sakitan yang dirasakan seseorang, padahal menurut diagnosis dan pemeriksaan dokter tidak ada gangguan fisik atau penyakit, sesungguhnya rasa sakit itu hanya perasaan saja yang ketakutan dan selalu dibesar-besarkan rasa sakit tersebut.Sedangkan untuk contoh heterosugesti, seperti yang dilakukan para pemimpin yang karismatik dan bintang film terkenal yang memprovokasi untuk melakukan suatu tindakan.
Berlangsungnya proses sugesti dapat terjadi karena pihak yang menerima dilanda kekalutan emosi dan sedang terhambat daya pikirnya seseorang secara rasional. Akan tetapi juga dapat terjadi oleh sebab yang memberikan pandangan tersebut adalah orang yang dianggap berwibawa dan otoriter ataupun karena faktor suatu mayoritas (Soekanto, 1986: 52-53).
7.        Prestasi
Prestasi merupakan pencapain atau hasil yang telah dicapai yang memerlukan suatu kecakapan/keahlian dalam tuga-tugas akademis maupun non akademis (Chaplin, 1993: 310). Menurut Fakih (2001: 59) mengatakan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi, tidaklah semata-mata karena mengejar materi dan meningkatkan status sosial, begitupun untuk bekerja secara baik, bekerja bukan atas dasar gengsi ataupun pengakuan sosial, tetapi bekerja demi kepuasan batin dari dalam untuk berprestasi.
Masyarakat yang memiliki tingkat keutuhan berprestasi, umumnya akan menghasilkan jiwa wiraswatawan yang lebih bersemangat dan selanjutnya akan mengahasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat, dibandingkan dengan kelompok yang memiliki tingkat kebutuhan berprestasi tersebut, pada umumnya merupakan hasil yang dibangun oleh pengalaman sosial sejak masa kanak-kanak, serta bukan sesuatu yang tiba-tiba.
8.        Crowding (Kerumunan massa)
Crowding merupakan suatu kumpulan orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama walaupun mungkin tidak saling mengenal dengan emosi-emosi yang mudah dibangkitkan dan tidak kritis ( Chaplin 1999: 118). Misalnya “Boneknya Persebaya” yang suka merusak fasilitas publik, seperti gerbong kereta api, maupun “Bobotoh Persib Bandung”, jika kalah bertanding merusak fasilitas umum, seperti tanaman hias, pot bunga, dan lampu hias di pinggir jalan.
Menurut Gustav Le Bon (1841-1931) seorang ahli psikolog sosial Prancis, hal ini dapat terjadi karena suatu massa seakan-akan memiliki suatu jiwa tersendiri yang berlainan sifatnya dengan jiwa individu satu persatu. Dengan demikian, seorang individu yang bergabung dalam massa tersebut sebagai anggota massa itu akan berpengalaman dan bertingkah laku secara berlainan dibandingkan dengan pengalaman dan tingkah lakunya sehari-hari selaku individu.
9.        Imitasi
Imitasi merupakan salah satu proses interaksi sosial yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan meniru perbuatan orang lain sevara sengaja.pengaruhnya dapat positif dan negatif. Secara positif imitasi dapat menimbulkan pengaruh makin patunya terhadap norma-norma yang berlaku.Sedangkan secara negatif, seperti dengan maraknya penyiaran film-film kekerasan maka di masyarakat dan sekolahpun kekerasan makin meningkat intensitasnya.
Menurut seorang ahli psikologi sosial dan kriminolog Prancis, Gabriel Tarde (1842-1904) bahwa masyarakat tiada lain dari pengelompokkan manusia, dimana individu satu sama lain mengimitasinya. Misalnya dalam ekspermen sederhana oleh Bailey (1988: 45) dengan menggunakan boneka Bobo, Bandura membagi anak yang diamati menjadi 3 kelompok. Satu kelompok berada di sebuah kamar selama 10 menit untuk memerhatikan seorang dewasa anggota regu peneliti. Ia bertindak sebagai model yang menurut perkiraan akan ditiru anak-anak. Model tersebut menyerang boneka Bobo dengan menghantam hidungnya, memukul kepalanya dengan palu, dan akhirnya menduduki boneka itu sambil berseru “Bangsat, tunduk terus kau!” Kelompok anak-anak yang kedua, melihat model yang sama-sama bermain akrab dengan boneka Bobo. Kelompok yang ketiga, anak-anak dibiarkan tanpa ada model yang menganiaya maupun bermain dengan boneka Bobo. Kemudia, ketiga kelompok anak ini secara serempak dimasukkan ke dalam kamar yang sudah disedakan boneka Bobo, dan ternyata anak-anak kelompok pertama adalah anak-anak yang paling agresif melakukankekerasan dengan memukul-mukul boneka Bobo. Dari penelitian ini jelas bahwa agresi dan kekerasan lebih dominan dilakukan melalui pembelajaran imitasi dengan model yang diberikan.
10.    Kesadaran
Konsep kesadaran memiliki makna inti yang merujuk pada suatu kondisi atau kontinum di mana kita mampu merasakan, berpikir, dan membuat persepsi (Wright, 2000:162). Kesadaranpun sangat dipengaruhi oleh susut pandang individual, dan kita mungkin dapat mengatakan bahwa aspek-aspek subjektif dari kesadaran itu berada di luar penjelasan sistem ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pemahaman bersama, bahkan berada di luar semua makna yang terkonstruksi secara sosial.
Bukti-bukti medis menunjukkan bahwa kesadaran seseorang sangat bergantung dari fungsi otak tertentu. Serangkaian studi terhadap pasien yang mengalami kerusakan otak, menunjukkan para pasien mengalami gangguan keadaran dari tingkat ringan sampai berat. Jika korteks bagian kanan rusak, pasien cenderung mengalami sindrom yang dikenal dengan pengabaian unilateral.Dalam kasus seperti ini, pasien dapat kehilangan kesadaran diri yang merusak daya imajinasi maupun pemahaman dunia nyata (Bisiach dan Luzzatti, 1978).
11.    Fantasi
Pemanfaatan fantasi dalam dunia seni sudah lama merupakan sumber lahirnya puisi, drama, lukisan. Akan tetapi, baru sejak abad ke-20 fenomena tersebut menjadi kajian ilmiah formal dalam psikologi (Singer, 2000: 343). Perlu diketahui bahwa dalam bahasa sehari-hari sering disamakan dengan khayalan. Padahal dalam bdang-bidang eksperimental atau klinis, istilah fantasi tersebut memiliki pengertian yang lebih luas lagi, mengingat istilah tersebut tdak sekadar aktifitas imajiner spontan, melainkan merupakan produk pemikiran yang muncul sebagai respons suatu kesadaran atau gambaran yang tidak jelas.Istilah tersebut mengacu pada representasi artistic proses-proses mental (Singer, 2000: 342).
            Penelitian James dalam The Priciples of Psychology (1980) tentang fantasi yang sering diremehkan orang, dikemukakan bahwa fantasi merupakan suatu respons terhadap suatu rangsangan melalui proses asosiatif yang kompleks.
12.    Personalitas
              Personalitas berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata persona yang artinya topeng aktor. Merupakan sebuah konsep samar yang mencakup seluruh karakteristik psikologi yang membedakan seseorang dengan yang lainnya (Colman, 2000: 745).
Berdasarkan sejarah tentang teori kepribadian, teori-teori Hipocrates (400 SM) dan Galen (170 M) dianggap sebagai teri kepribadian yang paling awal diterima pada Zaman Yunani dan Abad Pertengahan, dimana manusia dapat diklasifikasikan atas empat jenis kepribadian menurut keseimbangan rasa humor atau cairan dalam tubuh. Manusia optimis digerakkan oleh darah (sanguis), manusia murung oleh cairan ampedu hitam (melas chole), manusia temperamental oleh cairan ampedu kuning (chole), dan manusia apatis oleh dahak atau phlegma (Colman, 2000: 745).
Kepribadian mencakup usaha-usaha menyesuaikan diri yang beraneka ragam, namun khas yang dilakukan oleh individu. Karena itu kepribadian sering diidentikkan dengan aspek-aspek unik atau khas dari tingkah laku. Dalam hal ini, kepribadian merupakan istilah untuk menunjuk pada hal-hal khusus tentang individu dan yang membedakannya dari semua orang (Hall dan Lindzey, 1993: 27).
13.    Pikiran
      Istilah mind atau pikiran berasal dari bahasa Teutonic kuno, yatu gamundi yang artinya berpikir, mengingat, bermaksud, atau intend (Valentine, 2000: 667). Berbagai pengertian ini tamapak sebagai frase, seperti mengingat kembali, memerhatikan, dan mengubah pikiran orang. Dahulu kata mind digunakan untuk menunjuk secara kolektif pada kemampuan mental, seperti mempersepsi, membayangkan, mengingat, berpikir, mempercayai, merasakan menginginkan, memutuskan, dan berminat.
                 Manusia sebagai makhluk rasional yang beragama dan berbudaya, semestinya pikirannya mampu mengendalikan perilakunya sehari-hari.Bukan sebaliknya, perilaku mengendalikan pikiran (Valentine, 2000: 668).
14.    Insting atau naluri
                   Istilah ini mengacu pada suatu impuls untuk melakukan tindakan tertentu tanpa kesadran, tidak berhubungan dengan hasil pembelajaran atau didikan (James: 1980). Ada pula yang mengartikan naluri sebagai suatu kecenderungan, sikap atau intuisi yang dibawa sejak lahir. Begitu luasnya tentang pengertian insting atau naluri, oleh karena itu menyulitkan pembahasan secara ilmiah (Beer, 2000).
                        Sedangkan menurut pendapat para ahli terdahulu, seperti Charles Darwin yang menulis The Origin of Species (1859) mengartikan naluri sebagai suatu yang terpisah dari pengalaman hidup. Menurut Freud, naluri sebagai suatu dorongan biologis yang ada pada setiap makhluk hidup yang melandasi perilakunya untuk mempertahankan diri dan berproduksi.
            Sedangkan menurut McDougal dalam bukunya Introduction to Social Psychology (1908) mengemukakan naluri adalah suatu disposisi psikologis turunan atau bawaan yang menentukan seseorang dalam merumuskan persepsi, memberi perhatian atau respons terhadap berbagai pengalaman emosional atau dalam menghadapi suatu objek tertentu, kemudian melakukan tndakan atau perilaku tertentu yang muncul begitu saja akibat adanya impuls terhadap objek atau pengalaman tadi.
            Definisi tersebut melihat adanya keterkaitan beberapa aspek yang bersifat netral.Aspek-aspeknya mencakup pskofisik, namun mengartikan persepsi, emosi, dan impuls sebagai suatu manifestasi mental yang selalu memberi pengaruh terhadap tindakan, control, dan arah tindakan secara sengaja.Jadi terdapat unsur kognitif, dan konotatif yang menjadi kekuatan emosi.Kesimpulannya, pengertian naluri sejauh ini masih merupakan cakupan aktifitas yang luas, dapat merupakan dorongan biologis pada impuls untuk melakukan tindakan tertentu tanpa kesadaran yang sifatnya turunan atau bawaan dengan mengabaikan pengalaman hidup maupun hasil belajar.

15.    Mimpi
            Mimpi secara psikologis merujuk pada suatu aktivitas ide, gagasan, hasrat terpendam, kebutuhan, dan konflik, yang saling bertalian dan berlangsung selama tidur, selama dikuasai obat bius maupun selama dalam kondisi terhipnotis (Chaplin, 1999: 147). Sampai sekarang ini, masih relatif sedikit dipahami bahkan sering kali diabaikan dalam berbagai kajian kognisi. Terutama setelah metode instropeksi tergusur oleh metode-metode objektif-positivistik tentang kesadaran pada periode perkembangan ilmu-ilmu sosial di tahun 1930-an dan 1940-a, studi tentang mimpi terpental dan berhenti dari kepustakaan dunia ilmu-ilmu sosial ( Catwright, 2000:240). Padalal mimpi memiliki peran penting yang lebih besar yang tidak disadari orang-orang pada umumnya (Freud, 1962: 83-98).
            Crick dan Mitchison (1983) yang menyatakan bahwa mimpi dapat pula berfungsi sebagai proses belajar atau pengingatan atas hal-hal penting yang dialam pada masa sebelumnya. Begitupun Hennevin dan Leconte (1971) berpendapat bahwa mimpi berfungsi menghimpun informasi.

K.      Teori Psikologi
1.        Teori Agresi Psikoanalisis Sigmund Freud
Oleh Sigmund Freud dalam karyanya Beyond the Pleasure Principle (1920). Inti dari teori tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.    Perilaku agresif manusia pada dasarnya didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari sifat manusia, yakni insting/naluri kehidupan (eros) dan insting/naluri kematian (thanatos).
b.    Eros, mendorong orang mencari kesenangan dan kenikmatan untuk memenuhi keinginan. Sedangkan thanatos diarahkan pada tindakan-tindakan destruktif diri serta perasaan berdosa/bersalah.
c.    Karena sifat antagonistiknya, kedua insting/naluri itu merupakan sumber konflik intrafisik yang berkelanjutan, yang hanya dapat diatasi dengan mengalihkan kekuatan dengan orang yang bersangkutan kepada orang lain. Dengan demikian, bertindak agresif terhadap orang lain dianggap merupakan mekanisme untuk melepaskan energy destruktif sebagai cara melindungi stabilitas intrafisik pelaku.
d.   Satu alternatif yang mungkin dapat dilakukan melalui katarsis (pelepasan) yang dapat dilakukan melalui humor maupun meyalurkan agresi terhadap benda-benda tiruan, serta berolah raga yang menunjukkan permainan keras
2.        Teori Disonansi Kognitif Festinger
Oleh Festinger dalam karyanya A Theory of Cognitive Dissonance (1957). Isi pokok teori disonasi kognitif tersebut sebagai berikut:
a.    Antara elemen-elemen kognitif mungkin terjadi hubungan yang tidak pas yang menimbulkan disonansi (kejanggalan) kognitif.
b.    Disonansi kognitif menimbulkan desakan untuk mengurangi disonansi tersebut dan menghindari peningkatannya.
c.    Hasil dari desakan itu terwujud dalam perubahan-perubahan pada kognisi.
d.   Perubahan tingkah laku dan menghadapkan diri pada beberapa informasi tentang pendapat baru yang sudah diseleksi terlebih dahulu.
3.        Teori Kepribadian Erich Fromm
Teori kepribadian yang digagas Fromm sebagai berikut.
a.       Kebebasan manusia yang semakin luas, menempatkan manusia merasa semakin kesepian, dengan kata lain kebebasan menjadikan keadaan yang negative di mana manusia-manusia melarikan diri.
b.      Manusi selalu berusaha memecahkan kontradiksi-kontradiksi dasar yang ada padanya.
c.       Aspek individu, yakni aspek binatang dan aspek manusia merupakan kondisi-kondisi dasar eksistensi manusia, yang berasumsi bahwa: “pemahaman tentang psikhe manusia harus berdasarkan analisis tentang kebutuhan manusia yang berasal dari kondisi-kondisi eksistensinya.
d.      Kepribadian orang akan berkembang menurut kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
e.       Sebagai manusia tidak lepas dari pasangan tipe karakter nekrofilus dan biofilus. Nekrofilus adlah orang yang tertarik pada kematian, sedangkan biofilus adalah orang yang mencintai kehidupan.
f.       Sekarang ini lima tipe masyarakat sudah demikian menggejala, berbeda dengan masa-masa sebelumnya, seperti reseptif, eksploitatif, penimbunan, pemasaran, dan produktif.
g.      Ia yakin dengan proporsi-proporsi sebagai berikut: manusia memiliki kodrat esensial bawaan; masyarakat diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kodrat esensial ini; tidak satu pun bentuk masyarakat yang pernah diciptakan berhasil memenuhi kebutuhan dasar eksistensi manusia; adalah mungkin menciptakan masyarakat itu.
h.      Masyarakat yang didambakan adalah sosialisme komunitarian humanistic.
4.        Teori Deprivasi Relatif Gurr
       Oleh Ted Robert Gurr dalam karyanya Why Men Rebel (1970). Adapun ringkasan teori sebagai berikut:
a.       Dengan mendefinisikan deprivasi relatif sebagai hasil dari proses perubahan harapan dan kemampuan untuk memenuhi harapan itu maka bentuk deprivasi dapat dibedakan berdasarkan pola-pola perubahan.
b.      Ketidakpuasan menciptakan potensi untuk kekerasan politik.
5.    Teori Kecerdasan Majemuk Howard Gardner
     Gardner mengidentifikasikan delapan kecerdasan yang relative otonom, yakni
a.       Kecerdasan linguistic
b.      Kecerdasan logika matematika
c.       Kecerdasan spasial
d.      Kecerdasan kinestetik jasmaniah
e.       Kecerdasan interpersonal
f.       Kecerdasan intrapersonal
g.      Kecerdasan naturalis
Baginya kecerdasan dapat ditambah jumlahnya, jika memenuhi sebagian besar kriterianya. Jumlah kecerdasan kurang penting daripada kemajemukan kecerdasan, dan bahwa tiap manusia memiliki campuran kekuatan serta kelemahan keceradasan yang unik.

1 komentar:

  1. saya punya teman. dia itu selalu benci sama orang yang suka dengan dia. malah orang yang dia suka kalo tau yang suka ini suka dengan dia. malah dia malah jadi benci.. itu kenapa ya???

    BalasHapus